ads-unit

Anak Tumbuh Tanpa Kasih Sayang Ibu

0
Bekerja di luar negeri, jadi salah satu profesi favorit warga desa Gombalmukiyo. Sayangnya, kebanyakan pekerja justru dari wanita dan mereka bekerja di sector non formal seperti jadi asisten rumah tangga. Saya hanya miris, karena mereka yang sudah menikah, harus meninggalkan anak-anak dan suami demi uang. Tapi memang, untuk saat ini belum ada alternatif lain.

Sedangkan para lelaki di desa, sudah lupa caranya bagaimana bercocok tanam. Mereka lebih menyukai pekerjaan apapun asal bukan di sawah. Beternak pun enggan. Padahal kemakmuran di desa bisa tercapai jika masyarakatnya bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Tani dan ternak akan tahan krisis, dan tak peduli inflasi jika semuanya dipenuhi kebutuhan sendiri.

Tapi mungkin tak sesederhana itu, para petani pun sekarang sudah lupa dengan pupuk organik. Mereka lebih suka dengan pupuk buatan pabrik, yang harganya pun semakin melangit. Mau tak mau, petani juga sekarang terkena imbas inflasi meski tak separah profesi lainnya. Karena selama ada air, sebenarnya hasil panen masih lumayan.

Peternak pun demikian, sekarang lebih suka memposisikan diri sebagai pedagang. Beli sapi kecil, lalu beberapa bulan atau hingga setahun mereka gemukkan, setelah kira-kira cukup selisih harganya mereka langsung jual untuk mencari keuntungan.

Tak ada lagi peristiwa lahirnya pedet (anak sapi) yang bisa anak-anak di desa ini saksikan seperti masa kecil saya dulu. Dulu sedusun bisa heboh karena ada satu sapi mau melahirkan. Tapi sekarang, tak ada kehebohan seperti itu lagi.

Bukan berarti tak menyenangkan lagi, kampong saya ini tetap menyenangkan. Hanya saja saya kehilangan ibu-ibu yang sambil bercengkerama sesame mereka, menunggui anaknya bermain bersama-sama. Anak-anak sudah lama beralih dari permainan tradisional ke rental playstation. Sedangkan ibu-ibunya, kalau tidak jadi tenagak kerja wanita, mereka jadi asisten rumah tangga di perumahan sebelah. Seakan kebutuhan hidup mereka belum cukup kalau istri tidak ikut bekerja.
Bapak-bapak, kalau dulu setiap pagi sering lihat mereka membawa cangkul di bahunya. Tapi sekarang pilihannya menjadi penjaga malam di perumahan di kampung sebelah. Gajinya padahal sepertiga dari hasil panen kalau mereka mau bertani.

Mau bagaimana lagi, desa ini sudah berubah. Banyak sekali yang berubah dan semuanya seperti mata rantai yang terhubung. Anak-anak di kampung ini sudah sangat jauh lebih canggih ketimbang anak-anak seusianya di jaman saya. Anak SMP sekarang jajannya pulsa. Ke sekolah maunya naik motor, meski motornya kadang belum lunas. Bahkan saya masih ingat, belum lama kemarin ada seorang anak usia kuliah, mengamuk di rumahnya. Memaksa ibunya yang hanya pedagang kaki lima di pasar, untuk membelikannya motor. Dengan dalih, untuk memudahkan cari pacar. Ibu itu sekarang sudah meninggal karena sakit keras. Kasihan…

Jika anak laki-laki mengamuk. Lain lagi dengan anak perempuan yang sudah mulai besar. Malu saya mengatakan ini. Tetapi di kampung kami sekarang sudah ada pelacur muda. Anak manis itu pernah menghilang selama tiga hari, dan dia mau pulang kalau dia dibelikan sepeda motor. Orang tuanya kelabakan dan malu ketika anaknya pulang dalam kondisi hamil. Heboh kampung kami karena hal ini. Saya sampai khawatir kalau desa ini di adzab, dan rumah saya berada dalam radius 40 rumah yang terkena. Kata Pak Kyai, kalau ada kemaksiatan dan dibiarkan radiusnya bisa terkena hingga 40 rumah. Seram...kabarnya anak itu sekarang tinggal di lokalisasi di sebuah kota.

Tatanan keluarga pun sepertinya perlahan hancur di desa ini. Pelan tapi pasti kalau tak ada yang merubah, semua akan hancur pada waktunya. Anak tak hormat lagi pada ibunya. Sedangkan ibunya sibuk bekerja dan lupa memperhatikan dan mendidik anaknya. Sedangkan bapaknya, setiap hari semakin disibukkan dengan pekerjaan yang hasilnya semakin kurang dibanding kebutuhan hidup yang semakin banyak saja.


Ini dilema yang dihadapi oleh para ibu dan para gadis di desa kami. Pilih keluarga atau pilih uang? Berkumpul dengan keluarga, tetapi tanpa kemampuan mengikuti gaya hidup sekarang sepertinya hal sulit. Bekerja di luar negeri, meski menjadi asisten rumah tangga kebutuhan di rumah tercukupi, tapi keluarga terbengkalai. Pilihan yang sulit memang. Seharusnya saya dan Pak Lurah bisa mencarikan solusi atau membuka lapangan kerja untuk mereka agar bisa tetap di rumah sambil mengurus keluarganya. Tapi apa? Saat ini saya cuma bisa garuk-garuk kepala… 

About The Author

Hello, I am an web designer/developer from Melbourne, Australia. Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium .