Anak Tumbuh Tanpa Kasih Sayang Ibu
Bekerja di
luar negeri, jadi salah satu profesi favorit warga desa Gombalmukiyo. Sayangnya,
kebanyakan pekerja justru dari wanita dan mereka bekerja di sector non formal
seperti jadi asisten rumah tangga. Saya hanya miris, karena mereka yang sudah
menikah, harus meninggalkan anak-anak dan suami demi uang. Tapi memang, untuk
saat ini belum ada alternatif lain.
Sedangkan para
lelaki di desa, sudah lupa caranya bagaimana bercocok tanam. Mereka lebih
menyukai pekerjaan apapun asal bukan di sawah. Beternak pun enggan. Padahal kemakmuran
di desa bisa tercapai jika masyarakatnya bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Tani dan ternak akan tahan krisis, dan tak peduli inflasi jika semuanya
dipenuhi kebutuhan sendiri.
Tapi mungkin
tak sesederhana itu, para petani pun sekarang sudah lupa dengan pupuk organik. Mereka
lebih suka dengan pupuk buatan pabrik, yang harganya pun semakin melangit. Mau tak
mau, petani juga sekarang terkena imbas inflasi meski tak separah profesi
lainnya. Karena selama ada air, sebenarnya hasil panen masih lumayan.
Peternak pun
demikian, sekarang lebih suka memposisikan diri sebagai pedagang. Beli sapi
kecil, lalu beberapa bulan atau hingga setahun mereka gemukkan, setelah
kira-kira cukup selisih harganya mereka langsung jual untuk mencari keuntungan.
Tak ada
lagi peristiwa lahirnya pedet (anak sapi) yang bisa anak-anak di desa ini
saksikan seperti masa kecil saya dulu. Dulu sedusun bisa heboh karena ada satu
sapi mau melahirkan. Tapi sekarang, tak ada kehebohan seperti itu lagi.
Bukan berarti
tak menyenangkan lagi, kampong saya ini tetap menyenangkan. Hanya saja saya
kehilangan ibu-ibu yang sambil bercengkerama sesame mereka, menunggui anaknya
bermain bersama-sama. Anak-anak sudah lama beralih dari permainan tradisional
ke rental playstation. Sedangkan ibu-ibunya, kalau tidak jadi tenagak kerja
wanita, mereka jadi asisten rumah tangga di perumahan sebelah. Seakan kebutuhan
hidup mereka belum cukup kalau istri tidak ikut bekerja.
Bapak-bapak,
kalau dulu setiap pagi sering lihat mereka membawa cangkul di bahunya. Tapi sekarang
pilihannya menjadi penjaga malam di perumahan di kampung sebelah. Gajinya padahal
sepertiga dari hasil panen kalau mereka mau bertani.
Mau bagaimana
lagi, desa ini sudah berubah. Banyak sekali yang berubah dan semuanya seperti
mata rantai yang terhubung. Anak-anak di kampung ini sudah sangat jauh lebih
canggih ketimbang anak-anak seusianya di jaman saya. Anak SMP sekarang jajannya
pulsa. Ke sekolah maunya naik motor, meski motornya kadang belum lunas. Bahkan saya
masih ingat, belum lama kemarin ada seorang anak usia kuliah, mengamuk di
rumahnya. Memaksa ibunya yang hanya pedagang kaki lima di pasar, untuk
membelikannya motor. Dengan dalih, untuk memudahkan cari pacar. Ibu itu
sekarang sudah meninggal karena sakit keras. Kasihan…
Jika anak laki-laki mengamuk. Lain lagi dengan anak perempuan yang sudah mulai besar. Malu saya mengatakan ini. Tetapi di kampung kami sekarang sudah ada pelacur muda. Anak manis itu pernah menghilang selama tiga hari, dan dia mau pulang kalau dia dibelikan sepeda motor. Orang tuanya kelabakan dan malu ketika anaknya pulang dalam kondisi hamil. Heboh kampung kami karena hal ini. Saya sampai khawatir kalau desa ini di adzab, dan rumah saya berada dalam radius 40 rumah yang terkena. Kata Pak Kyai, kalau ada kemaksiatan dan dibiarkan radiusnya bisa terkena hingga 40 rumah. Seram...kabarnya anak itu sekarang tinggal di lokalisasi di sebuah kota.
Tatanan keluarga
pun sepertinya perlahan hancur di desa ini. Pelan tapi pasti kalau tak ada yang
merubah, semua akan hancur pada waktunya. Anak tak hormat lagi pada ibunya. Sedangkan
ibunya sibuk bekerja dan lupa memperhatikan dan mendidik anaknya. Sedangkan
bapaknya, setiap hari semakin disibukkan dengan pekerjaan yang hasilnya semakin
kurang dibanding kebutuhan hidup yang semakin banyak saja.
Ini dilema
yang dihadapi oleh para ibu dan para gadis di desa kami. Pilih keluarga atau
pilih uang? Berkumpul dengan keluarga, tetapi tanpa kemampuan mengikuti gaya
hidup sekarang sepertinya hal sulit. Bekerja di luar negeri, meski menjadi
asisten rumah tangga kebutuhan di rumah tercukupi, tapi keluarga terbengkalai. Pilihan
yang sulit memang. Seharusnya saya dan Pak Lurah bisa mencarikan solusi atau
membuka lapangan kerja untuk mereka agar bisa tetap di rumah sambil mengurus
keluarganya. Tapi apa? Saat ini saya cuma bisa garuk-garuk kepala…

