Haruskah Kita Matikan TV?
Sebagai Carik, saya juga punya keprihatinan tentang kondisi desa, sama persis seperti para Kyai. Gimana nggak khawatir dan prihatin, lha wong anak-anak yang seharusnya masih sibuk belajar dan mengaji sekarang malah sudah pada pinter dandan. Dan yang lebih dari itu, sepertinya memang para orang tua tidak lepas dari kondisi ini. Bagaimanapun orang tua ikut bertanggung jawab.
ABG, kalau nggak salah istilah kerennya itu ya? Anak-anak belasan tahun yang kalau menurut saya belum pantas berdandan, eh sekarang sudah menor. Belum pakaian yang mereka pakai, meskipun saya Carik dan termasuk yang dituakan, darah muda laki-laki masih mengalir di dalam tubuh saya. Jadi kadang khilaf juga melototi celana yang memperlihatkan keindahan bunga yang baru mau mekar itu. Kadang saya sampai melongo, meski habis itu istighfar karena kebablasan.
Meski desa kecil, rupanya budaya kota besar sudah tak terbendung lagi masuk ke Gombalmukiyo. Kalau anak perempuan berdandan ala artis sinetron, anak laki-laki tak kalah juga. Mereka mulai mengecat rambut dan potongan rambutnya ala anak band. Kalau anak band mungkin mukanya sudah disortir sama produser dan biasanya yang caur nggak bakalan tenar lama. Lha ini anak-anak yang mukanya pas-pasan tapi bergaya seakaan mereka boy band. Sayangnya, kalau dipadukan dengan seragam sekolah, sama sekali nggak masuk atau nggak matching.
Mahluk-mahluk korban penetrasi budaya hedon itu biasanya keluar di sore hari. Dengan motor skuter matik yang rata-rata belum lunas. Ya, di desa ini masyarakatnya sudah terbiasa dengan kredit. Kalau dulu waktu saya kecil, cuma Pak Lurah dan keluarganya yang punya TV, apalagi motor. Sekarang lima ratus ribu saja sudah bisa bawa pulang motor. Soal cicilan, itu perkara nanti. Yang perempuan, naik motor dengan rambut lurus panjang tergerai, kaos dan celana ketat, berboncengan hingga tiga anak. Mereka pikir dengan cara itu mereka bisa menarik perhatian, dan memang betul. Sayangnya, keliru karena itu bukanlah prestasi. Cara menarik perhatian ala (maaf) wanita nakal.
Kalau sebagai laki-laki, kadang saya khilaf masih 'menikmati' pemandangan bocah-bocah itu, tapi sebaliknya saya mual ketika melihat anak laki-laki yang melakukan itu. Dengan topi yang dimiringkan atau diputar ke belakang, biar mirip Justin 'Asshole' Bieber kata mereka. Jaket yang kedodoran, tapi celananya ketat, tak kalah ketat dengan anak perempuan. Kalau lihat yang begini, saya langsung ngelus dada.
Sebenarnya apa sih yang membuat mereka seperti ini? Pak Kyai masih sehat dan masih aktif ngajari ngaji di masjid. Dan sepertinya Pak Kyai punya jadwal rutin, nggak ada liburnya. Kok sepertinya apa yang disampaikan Pak Kyai nggak ada nyantol di hati para orang tua. Apa mereka sudah menganggap wajar? Kenapa?
Saya curiga karena mereka semua, baik orang tua atau pun anaknya, sudah teracuni oleh tontonan yang tidak sehat di TV. Banyak banget tontonan yang blas nggak mutu tapi tetap bertahan karena ratingnya bagus. Makanya saya setuju dengan meme yang sempat beredar di facebook waktu itu, artis sinetron dibayar mahal untuk merusak anak-anak kita, sedangkan guru dibayar murah untuk membuat anak kita pintar.
Lalu, bagaimana aksi nyata kita? Haruskah kita matikan TV?
ABG, kalau nggak salah istilah kerennya itu ya? Anak-anak belasan tahun yang kalau menurut saya belum pantas berdandan, eh sekarang sudah menor. Belum pakaian yang mereka pakai, meskipun saya Carik dan termasuk yang dituakan, darah muda laki-laki masih mengalir di dalam tubuh saya. Jadi kadang khilaf juga melototi celana yang memperlihatkan keindahan bunga yang baru mau mekar itu. Kadang saya sampai melongo, meski habis itu istighfar karena kebablasan.
Meski desa kecil, rupanya budaya kota besar sudah tak terbendung lagi masuk ke Gombalmukiyo. Kalau anak perempuan berdandan ala artis sinetron, anak laki-laki tak kalah juga. Mereka mulai mengecat rambut dan potongan rambutnya ala anak band. Kalau anak band mungkin mukanya sudah disortir sama produser dan biasanya yang caur nggak bakalan tenar lama. Lha ini anak-anak yang mukanya pas-pasan tapi bergaya seakaan mereka boy band. Sayangnya, kalau dipadukan dengan seragam sekolah, sama sekali nggak masuk atau nggak matching.
Mahluk-mahluk korban penetrasi budaya hedon itu biasanya keluar di sore hari. Dengan motor skuter matik yang rata-rata belum lunas. Ya, di desa ini masyarakatnya sudah terbiasa dengan kredit. Kalau dulu waktu saya kecil, cuma Pak Lurah dan keluarganya yang punya TV, apalagi motor. Sekarang lima ratus ribu saja sudah bisa bawa pulang motor. Soal cicilan, itu perkara nanti. Yang perempuan, naik motor dengan rambut lurus panjang tergerai, kaos dan celana ketat, berboncengan hingga tiga anak. Mereka pikir dengan cara itu mereka bisa menarik perhatian, dan memang betul. Sayangnya, keliru karena itu bukanlah prestasi. Cara menarik perhatian ala (maaf) wanita nakal.
Kalau sebagai laki-laki, kadang saya khilaf masih 'menikmati' pemandangan bocah-bocah itu, tapi sebaliknya saya mual ketika melihat anak laki-laki yang melakukan itu. Dengan topi yang dimiringkan atau diputar ke belakang, biar mirip Justin 'Asshole' Bieber kata mereka. Jaket yang kedodoran, tapi celananya ketat, tak kalah ketat dengan anak perempuan. Kalau lihat yang begini, saya langsung ngelus dada.
Sebenarnya apa sih yang membuat mereka seperti ini? Pak Kyai masih sehat dan masih aktif ngajari ngaji di masjid. Dan sepertinya Pak Kyai punya jadwal rutin, nggak ada liburnya. Kok sepertinya apa yang disampaikan Pak Kyai nggak ada nyantol di hati para orang tua. Apa mereka sudah menganggap wajar? Kenapa?
Saya curiga karena mereka semua, baik orang tua atau pun anaknya, sudah teracuni oleh tontonan yang tidak sehat di TV. Banyak banget tontonan yang blas nggak mutu tapi tetap bertahan karena ratingnya bagus. Makanya saya setuju dengan meme yang sempat beredar di facebook waktu itu, artis sinetron dibayar mahal untuk merusak anak-anak kita, sedangkan guru dibayar murah untuk membuat anak kita pintar.
Lalu, bagaimana aksi nyata kita? Haruskah kita matikan TV?


